Kalaupun alang ku alihkan
Semak ku pangkas kebas
Ombak ku hempas
Laut ku belah berarah
Siapa peduli?
Kalaupun bintang ku ganti kerlipnya
Bulan ku hapus sinarnya
Bumi ku hilangkan dari bima sakti
Pun awan yang hilang kutiup
Siapa peduli?
Kalaupun alang ku alihkan
Semak ku pangkas kebas
Ombak ku hempas
Laut ku belah berarah
Siapa peduli?
Kalaupun bintang ku ganti kerlipnya
Bulan ku hapus sinarnya
Bumi ku hilangkan dari bima sakti
Pun awan yang hilang kutiup
Siapa peduli?
Pergi
Pergilah yang jauh
Terbang
Terbanglah yang tinggi
Biarkan aku
Memeluk batu hitam lamunku
Dengan batin deraikan hujan
Memetik irama jiwa dayu
Malang, 17 Maret 2016
Pada mahkota yang hilang permatanya
Pada sang surya yang berpendar di ufuk barat
senyum kecil tanpa arti
Menyunggingkan perisai bentangi langit ini
Pada kaum yang berbaju goni
Pada pejabat yang bersarung amanat
Hambar senyuman tersirat
Tuturkan bilah kata yang tak terucap
Pada dunia yang tak lagi berputar
Pada merpati yang tak lagi bersayap
Aku tetap berjuang
Sampaikan kabar kabar burung yang tak berucap
Daun kuning membakar Aurora
Erupsinya membekas bagai darah menghujam jantung
Apa saja yang akan datang terhitung dalam neraca
Nnti gendewa yang berkelakar menunggu menjadi patung
Untungnya senja tak pergi ke ujung semesta
Racau nada berdering
Imbas kan sebait kata
Lalu dia terdiam dan terlihat kering
By : Wayan Nugroho
Daun mapel yang jatuh seakan bertanda akan jatuhnya hatiku. Musim gugur tahun ini seakan menjadi saksi pertemuanku dengannya. Pertemuan singkat yang berujung rindu yang tertaut pada do'a-do'a.
Aku penyuka warna pink bertemu dengannya si baju coklat. Entah gairah apa pada tubuhnya yang membangkitkan denyut pada jantungku. Aku terpaku kala itu. Tak disangka singkat itu bisa jadi kenangan panjang untukku.
Mungkin karena senyumnya, ah tidak-tidak, ia tidak tersenyum sama sekali waktu itu. Mungkin karena rambutnya, ah tidak juga, rambutnya normal. Mungkin karena tangannya, haha memang tangannya sedang apa. Atau mungkin karena matanya? Aku diam~... mungkin.. matanya sendu, seakan mengisyaratkan banyak hal yang tak mampu ia ucapkan, seakan menyimpan beban yang tak pernah ia tunjukkan, namun matanya mampu meyakinkan hatiku tuk bergetar saat mengingatnya.
Wajahku tertunduk, tanganku masih terangkat kedua-duanya, bersatu menghadap langit. Aku bersimpuh kembali, mengingat kenangan mataku betemu dengan matanya.
Kepada sang bulan yang tak pernah letih bersinar
Aku titipkan rinduku padamu
Kepada sang bintang yang tak pernah henti berkedip
Aku iringkan salamku padanya
Malam
Dinginmu tak pernah menyerupai ayalku
Dinginmu tak pernah sedingin fikirku
Dinginmu tak pernah tinggalkanku
Hati letih ini mencoba bangkit
Menyapamu sang mentari senja
Menjadikanmu sang surya, bintang terang paling indah
Hai, bintangku
Aku rindu.
Perlahan aku kan terbiasa
Patah hatiku kan sirna
Bayangmu kan senyap
Matahariku kan terbit
Malamku tak dingin
Rinduku kan berujung
Dan semua hanya akan jadi canggung kala kita berjumpa
Den
Singosari, 5 Februari 2017
Hari pertama ditahun 2021 adalah hari mendung. Langit pagi yang tak cerah membuatku gamang, apakah tahun ini akan berbeda ataukah tahun ini ...