Halaman

Jumat, 22 Juli 2016

DEKIL

Perempuan berkerudung merah itu menunduk menatapi kuku-kuku jarinya yang memegang bolpoin. Sesekali wajahnya terangkat lalu menunduk kembali. Ia diam dan menjaga posisi duduknya agar rapi terlihat.
Disana, diseberang sana ada seseorang yang membuncah hatinya. Sosok dekil yang belakangan ini menghantui fikirannya. Sosok yang hari ini menumbuhkan bunga-bunga di dalam jiwanya.
Tangannya terangkat, sosok dekil itu mengangkat tangannya. Tangan yang biasanya memegang putung rokok itu kini melambai di depannya. Si kerudung merah hanya menoleh sekilas, lalu menunduk kembali. Terdengar suara sang dekil, rendah tapi tegas. Si kerudung merah semakin terenyuh mendengar suaranya. Diam-diam ia tersenyum sambil membayangkan sosok didepannya itu.
Lima menit berlalu, forum itu telah bubar. Si kerudung merah bergegas keluar, tak ingin melewatkan masa terakhirnya menatap si dekil hari ini. Matanya menangkap punggung sang dekil yang kini telah berpindah forum. Hati kecilnya tersenyum.
Sebenarnya, si kerudung merah dapat tinggal lebih lama disana melihat dari jauh si dekil bersama teman-temannya, tetapi hari ini sampai disini saja sebelum bunga api di hatinya semakin meletup menjadi-jadi.

Ah sepertinya si kerudung merah tidak akan bisa tidur malam ini. Dasar dekil!!

Rabu, 02 Maret 2016

Menjawab

I want to answer you..

What the.. 
aku hanya ingin menjawab pertanyaanku. aku hanya ingin mengajukan segala rasa rinduku. aku ingin menyampaikan segala-galaku padamu.

baik judulku kali ini menjawab
sebenarnya apa yang ingin aku jawab, aku juga tak mengerti
mungkin harusnya bukan aku yang menjawab
tetapi tepatnya aku juga tidak tahu.

tapi ada satu yang aku pinta tuk menjawab segala penasaranku
satu yang selalu memenuhi ruang pikirku
satu yang tak mau usir dari kehidupan mimpiku

Minggu, 10 Januari 2016

Hampa

Kayla kembali menekan dadanya. Menghirup udara lebih banyak dari biasanya lalu menghembuskannya. Sakit. Rasa itu terus menjalar
Entah apa yang dipikirkannya saat itu. Ia sedang ingin bersenang-senang bersama teman-temannya di salah satu kafe di daerah Kemang setelah penat seharian bekerja. Tiba-tiba pandangan matanya bertemu dengan sosok laki-laki di ujung sana.

Laki-laki itu, punggunggnya tegap yang membelakangi Kayla seakan mampu menjelaskan bahwa ia adalah sosok yang selalu ia mimpikan tanpa harus tahu melihat wajahnya.

Kayla menarik nafas kembali, dadanya sakit. Ada satu bagian dalam dirinya yang seperti di iris-iris. Tapi siapa dia?. Siapa Kayla. Itulah yang semakin membuat dadanya sakit dan sesak. Ia ingin menangis. Tapi sekali lagi ia siapa?

Andre. Lelaki berwajah tampan bertubuh proporsional itu adalah teman SMAnya. Kayla telah jatuh cinta sejak pertama ia mengobrol dengannya. Melewati berbagai kegiatan dengannya. Kebetulan Kayla dan Andre adalah siswa aktif yang takkan puas sekolah hanya dengan belajar di kelas. Keduanya sama-sama sering terlibat dalam kegiatan sekolah. Meski tidak ikut organisasi resmi seperti osis dan pramuka. Kayla dan Andre sering mengikuti lomba, seminar, pelatihan, atau apapun kegiatan yang diadakan oleh sekolah. Disitulah rasa ketertarikan Kayla dimulai.

Selama masa SMA ia hanya melihat Andre. Ia selalu tergila-gila terhadapnya. Tetapi Kayla adalah anak yang tak pandai menyampaikan perasaannya. Rasa sukanya ia simpan baik-baik, jangan sampai teman-temannya tahu apalagi Andre.

Hingga lulus SMA, Andre yang kelihatan tak pernah terlihat punya pacar atau dekat dengan siapapun. Dikabarkan dekat dengan salah satu teman kelasnya yang kebetulan Kayla juga mengenalnya.

Hancur sudah harapannya. Dita, seseorang yang dikabarkan dekat dengan Andre adalah teman Kayla di gereja. Ia adalah anak yang baik, pintar serta memiliki paras yang cantik. Kayla cukup tahu bahwa ia memang harus mundur.

2 tahun lamanya, Kayla tidak pernah menampakkan diri dihadapan Andre dan Dita. Ia selalu menyibukkan diri dengan bekerja. Ia berharap dengan begitu ia dapat melupakan sosok Andre yang selalu ada dalam hatinya itu.

Tapi sekarang, hari ini, ia harus menelan pil pahit. Setelah sekian lama tak bertemu, ia melihat sosok laki-laki itu dengan seorang wanita yang dikenalinya, Dita. Sedang apa mereka. Pikir Kayla. Tentu saja mereka sedang kencan. Dasar kau bodoh Kay. Hatinya memarahi. Yang paling pahit yang dirasakan Kayla adalah kenyataan bahwa ia belum bisa melupakan laki-laki itu meski sudah 2 tahun tak bertemu.

Kayla hendak berputar membalikkan badan dan keluar dari kafe itu, ketika Dita memergokinya dan memanggil namanya. Sial. Batinnya. Mau tak mau Kayla harus menghampiri mereka berdua.

"Hai" sapa Kayla.
"Hai Kay, senang bertemu denganmu. Sudah lama kita tak bertemu" tutur Dita dengan mata berseri-seri.
Dita dan Kayla sebenarnya bukan teman yang dekat. Mereka hanya kebetulan sering bertemu di gereja. Dan apabila ada kegiatan digereja mereka adalah pasangan yang pas. Dita menyanyi dan Kayla bermain piano.
"senang juga bertemu denganmu. Senang juga bertemu, ndre" Kayla memaksakan seutas senyum dan menyapa Andre yang masih terdiam.
"Hai Kay, apa kabarmu. Sini duduk" Andre menjawab sapaan Kayla. Sambil menunjuk kursi kosong di sebelahnya.
"Kabar baik, tapi aku tidak bisa berlama-lama, aku sudah ditunggu teman-temanku" katanya beralasan.
Terlihat raut muka Andre yang berubah. Tetapi mereka mempersilahkan Kayla untuk meninggalkan tempat itu.
"aku pergi dulu, sampai jumpa di lain waktu" Kayla tersenyum. Andre tersenyum. Ia tidak sempat melihat Dita. Ia segera berlalu meninggalkan tempat itu sebelum wajahnya memerah dan hatinya semakin teriris.

Entah takdir apa yang sedang terjadi pada Kayla. Tiga hari setelah ia bertemu dengan Andre di Kafe dan setelah ia mencoba untuk melupakan Andre kembali, Kayla tidak sengaja menabarak troli seseorang di supermarket

To be continue...

Selasa, 01 Desember 2015

Diklat MP3 2015 "Growing Up, Together"

Sabtu (28/11), Riki Anggrian, selaku ketua BEM FIP UM resmi membuka acara Diklat Mahasiswa Peneliti dan Penulis Produktif Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.
Acara yang bertema "Growing Up,Together" itu dilaksanakan selama dua hari di dua tempat yang berbeda.
Hari pertama yang merupakan diklat ruang dilaksanakan di gedung D1 FIP UM. Ada empat pemateri yang mengisi diklat ruang ini. Yang juga mewakili empat divisi MP3, yakni Fahrul Khakim (penulis novel Hiding My Heart) sebagai pemateri sastra, Annisa (direktur AE publishing) sebagai pemateri penerbitan, Wiwin Januaris (Mawapres 2 UM 2014) sebagai pemateri karya ilmiah, dan Fahmi (direktur LPM SIAR) sebagai pemateri jurnalistik.
Diklat ruang berlangsung selama setengah hari. Selanjutnya, sekitar jam 2 siang kami berpindah tempat menuju salah satu villa di Batu.
Sampai di batu, kami melakukan bersih diri sebelum menuju acara selanjutnya. Ba'da sholat maghrib berjama'ah, materi kepenulisan dimulai. Kali ini yang membawakan materi adalah Poppy Trisnayanti selaku senior MP3 yang berbagi pengalamannya selama menjadi penulis, tak lupa juga ia selipkan kiat-kiat menjadi penulis yang baik. Setelah itu, kami rehat sebentar untuk makan malam.
Sekitar pukul 20.30 kami memulai materi kedua tentang keorganisasian bersama wakil ketua BEM FIP 2015, Rian Firmansyah. Rian memberikan banyak informasi mengenai cara berorganisasi yang baik serta posisi MP3 dalam keorganisasian di FIP. Tak lupa ia menyelipkan sebuah puisi sebagai penyemangat anggota baru MP3 dalam menulis.
Selama materi satu dan dua berlangsung, kami (MP3) mendapat kunjungan khusus dari BEM FIP dan Unit Aktivitas OPIUM. Tak ayal, suasana villa yang awalnya tenang menjadi ramai karena kedatangan dua pasukan ini. Tetapi kami tetap berterima kasih atas kedatangan BEM FIP dan OPIUM.
Hari kedua, diklat MP3 di mulai pukul 06.00 di halaman parkir BNS. Senam pagi menjadi pembuka acara kami hari itu. Setelah senam, kami bermain games bersama. Kereta buta adalah game yang kami pilih untuk mengajarkan kekompakan bagi anggota baru MP3.
Pukul 08.30 kami kembali ke villa dan makan bersama. Acara selanjutnya adalah pembuatan mading oleh masing-masing kelompok. Surprise, dalam waktu dua jam anggota baru MP3 sudah bisa merampungkan madingnya dengan menarik.
Pukul 12.00 acara ditutup oleh ketua MP3 2015, Ajar Hayu, kami kembali ke Malang.
Banyak hal yang dapat kami lakukan selama diklat, banyak pelajaran juga yang dapat kami petik dari diklat. Semoga generasi baru MP3 2016 dapat menumbuhkan semangat kepenulisan di FIP dan dapat melebarkan sayap MP3 menuju langit tertinggi.
Diklat MP3 2015 "Growing Up, Together"
MP3 "ayo nulis"

Senin, 26 Oktober 2015

Ridha

            “Ridhayallahu ridhawalidaain, wasukhtullahi sukhtuwalidain”
            Begitulah bunyi hadits yang pernah aku dapatkan dari Ust. Hasan Bisri. Hari itu pelajaran hadits dan aku masih duduk di kelas TPQ Madrasah Diniyah Salafiyah Darun Najah Singosari, sudah lupa persisnya tetapi kira-kira kelas TPQ III karena aku masih sangat kecil kala itu.
            Aku senang sekali pelajaran hadits, selain penyampaian materi yang menyenangkan dari Ust. Hasan, pelajaran Hadist juga merupakan salah satu mata pelajaran di sekolahku yaitu Madrasah Ibtidaiyah Almaarif 02 Singosari. Jadi, satu pelajaran di dua tempat ini masih sangat berkaitan.
            Kembali kepada hadits di atas.
            Tahu tidak apa makna dari hadits diatas? Artinya sangat bagus lho akhi-ukhti..
            Artinya..
            “Keridhaaan Allah terletak pada Keridhaan Orang tua, dan Kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan Orang tua”
            Kenapa saya selalu mengingat hadits ini? Karena hadits ini sangat bermakna bagi saya. Orang tua bagi saya, bukanlah sekedar orang yang telah melahirkan kita di dunia. Bukan pula sekedar orang yang selalu bersama kita. Orang tua itu segalanya. Saya tidak mungkin bisa berbuat apa-apa tanpa orang tua.
Orang tua adalah harta yang paling berharga dimuka bumi. Mereka adalah orang yang menyayangi dengan tulus. Mereka yang tanpa mengeluh selalu bekerja keras mencari rupiah demi sekolah anak-anaknya. Mereka yang susah ketika kita sakit. Mereka yang menangis bila kita tidak bisa apa-apa.
Ibu bagai malaikat yang hadir dibumi. Setiap belaiannya, setiap tutur katanya dan tindak raganya menyucurkan kasih sayang pada kita.
Ayah bagai panglima pelindung bagi anak-anaknya. Menjadi tembok baja bagi kemunafikan yang menghajar anak-anaknya. Pemimpin yang tegar dalam keluarga.
Hadits ini merupkan hadits favorit saya, sejak pertama mengenal dan menghafal hadits, hadits inilah yang paling cepat saya hafal dan masih saya ingat hingga sekarang.
Saya takut pada hadits ini. Hadits inilah pedoman tingkah laku saya kepada orang tua saya. Saya takut mendapat kemurkaan Allah apabila menyakiti orang tua. Sebaliknya saya takut sekolah sia-sia hanya karena tidak diridhai orang tua.

Akhi-ukhti, orang tua adalah bukti nyata bahwa Allah mencintai kita. Maka cintailah orang tua agar kita juga senantiasa mendapat cinta kasihNya, Dia Yang Maha Esa.

Sabtu, 24 Oktober 2015

Ku kamu ki aku malam ku

"kamulah satu satunya
yang ternyata mengerti aku
maafkan aku selama ini
yang sedikit melupakanmu"

Soundcloud pertama yang diproduksi oleh pgsd a4. Sura merdu Dian serta iringan syahdu petikan gitar, Iqbal dan Ilham membuat siapa saja yang mendengarkan akan turut serta beradu dalam melody lagu milik dewa 19 tersebut.

Kesederhanaan yang tercipta, diantara nada nada itu terayun membentuk sebait rindu imaji perangainya. Menggambarkan sesosok bayang semu yang pernah terjamah namun terabaikan. Sejumput senyum yang pernah digenggam namun dilepaskan.

Dan aku menyebutnya rindu.
Sejalan dengan itu, rasa menjalar menuai ketegaran hatiku.
Mengikis tentraman jiwa terkuai. Terombang aku. Siluet mu buncahkan egoku.

Kamu satu satunya.
Mengertikanku dalam dawai rindu yang terombang ambing tanpa si arah. Mendekteku akan penting hadirmu terlupa kan waktu.

Dilemaku hanya menunggumu.
Menitik kehadiran itu dalam satu bingkai khayal rancu yang selalu berlinang pilu. Dalam kotak sejuta peluh yang kau genggam dalam harapan-harapan daku mengaku pada aralmu tujumu lukamu. Dakukah itu?

Minggu, 20 September 2015

Run to 2021

Hari pertama ditahun 2021 adalah hari mendung. Langit pagi yang tak cerah membuatku gamang, apakah tahun ini akan berbeda ataukah tahun ini ...